selamat datang di blog kami, Jadilah Guru Paud sebagai guru Pembelajar

Rabu, 20 Juli 2016

ayo kita belajar memaknai indikator K13 Paud



Bagaimana Memahami Indikator Perkembangan dalam K-13 PAUD?
Apakah indikator perkembangan itu?
Indikator perkembangan merupakan penanda kemampuan yang dicapai anak pada usia tertentu. Untuk mempertegas kedudukan indikator, maka indikator perkembangan harus dipahami sebagai berikut:

1.  Indikator perkembangan merupakan kontinum perkembangan peserta didik PAUD dari usia lahir sampai 6 tahun dan dijabarkan berdasarkan kelompok usia.
2.  Indikator perkembangan yang dirumuskan berdasarkan kompetensi dasar oleh setiap satuan PAUD merupakan hasil rumusan dari indikator perkembangan yang bersumbOer dari Permendikbud 146 dan Tingkat pencapaian perkembangan yang terdapat dalam Permendikbud 137.
3.  Indikator perkembangan untuk KD pada KI 3 dan KI 4 menjadi satu untuk memberikan pemahaman bahwa pengetahuan dan keterampilan merupakan dua hal yang menyatu.
4. Indikator pencapaian perkembangan dikembangkan berdasarkan kelompok usia:
a.  Lahir sampai usia 3 (tiga) bulan;
b.  Usia 3 (tiga) bulan sampai usia 6 (enam) bulan;
c.  Usia 6 (enam) bulan sampai usia 9 (sembilan) bulan;
d.  Usia 9 (sembilan) bulan sampai usia 12 (dua belas) bulan;
e.  Usia 12 (dua belas) bulan sampai usia 18 (delapan belas) bulan;
f.  Usia 18 (delapan belas) bulan sampai usia 2 (dua) tahun;
g.  Usia 2 (dua) tahun sampai usia 3 (tiga) tahun;
h.  Usia 3 (tiga) tahun sampai usia 4 (empat) tahun;
i.  Usia 4 (empat) tahun sampai usia 5 (lima) tahun; dan
j.  Usia 5 (lima) tahun sampai usia 6 (enam) tahun.

Apakah fungsi Indikator perkembangan dalam K-13 PAUD itu?
Agar lebih tepat dalam memaknai dan menggunakan indikator perkembangan, maka fungsi indikator hendaklah dipahami dengan cermat.

Fungsi indikator secara lebih jauh adalah:
1. Indikator perkembangan menjadi acuan untuk memantau/menilai perkembangan anak sesuai dengan tahapan usianya.

2. Indikator perkembangan tidak dibuat untuk menjadi kegiatan pembelajaran, tetapi menjadi panduan yang digunakan pendidik dan/atau pengasuh dalam melakukan stimulasi dan observasi kemajuan perkembangan peserta didik.
untuk lebih jelas silakan klik link dibawah ini:
 

Jumat, 01 Juli 2016

Ayah Sering-seringlah memeluk anak, karena anak akan menjadi mandiri


Pelukan tidak hanya memberikan rasa aman, tapi juga mentransfer keberanian dan kemandirian pada anak. Tidak heran, anak lebih mandiri bila sering dipeluk ayah.Pelukan merupakan perwujudan kasih sayang berupa sentuhan fisik yang paling mudah dilakukan. Orang tua perlu rutin memeluk anak guna mendukung proses tumbuh kembang anak. Walau terbilang mudah, tak semua orang tua terbiasa memeluk anak-anaknya. Ada yang memang tidak terbiasa dipeluk sejak mereka kecil sehingga terus berlanjut hingga orang tua ini memiliki anak. Kalau belum terbiasa, ada baiknya sejak sekarang mulai membiasakan diri untuk memeluk anak. Para ayah, biasanya agak sulit memberikan pelukan kepada anak-anaknya. Menurut Melly Puspita Sari, S.Psi., MT, NLP, bisa jadi, ayah yang sulit memeluk dulunya juga mungkin jarang dipeluk. "Karena si ayah tumbuh dan berkembang jarang dipeluk, ia akan melakukan hal yang sama kepada anaknya. Tetapi kalau ia biasa dipeluk, ia akan memeluk anaknya," ujar psikolog lulusan Universitas Muhammadiyah Malang ini. Yuk peluk si kecil agar ia lebih mandiri. Ingat, anak lebih mandiri bila sering dipeluk ayah. Kalau belum terbiasa, isteri bisa mendorong suami untuk mulai membiasakan kegiatan memeluk anak. Katakan saja, kalau ingin anaknya pintar, menyayangi sang ayah meski sudah tua, dan tetap mengidolakan ayahnya, maka mulai mencoba untuk memeluk. Sejumlah penelitian, dikatakan penulis buku 'The Miracle of Hug' ini, menunjukkan kalau pelukan antara orang tua dan anak dapat meningkatkan kecerdasan otak, merangsang keluarnya hormon oksitosin yang memberikan perasaan tenang pada anak, serta memberi dampak positif pada perkembangan anak. Selain itu, pelukan membuat anak merasa dicintai dan dihargai. Selain itu, pelukan dari masing-masing orang tua akan mentransfer hal luar biasa pada anak. Masing-masing akan mentransfer sifat tertentu pada anak sehingga anak akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang otentik dan sehat. Ingat lo, anak lebih mandiri bila sering dipeluk ayah. "Saat ayah memeluk, sesungguhnya ia mentransfer kemampuan kemandirian. Laki-laki itu mentransfer aspek berani untuk berinteraksi dengan figur otoritas yang ada di luar rumah," lanjut Melly. Anak-anak ini akan lebih kuat saat berada di luar rumah. Pernyataan anak lebih mandiri bila sering dipeluk ayah pun bukan isapan jempol. Sebaliknya, anak-anak yang mendapat kekerasan dalam rumah tangga, cenderung menjadi penakut saat berada di luar rumah. Sementara itu, ketika ibu memeluk, sifat empati akan tersalurkan kepada anak. "Ibu itu figur afeksi, yang ketika anak sakit, ia akan memeluk anak maupun mengambilkan obat untuk anak," imbuh Melly. Lalu bagaimana kalau anaknya yang malu atau merasa risih untuk dipeluk oleh orang tuanya? "Katakan saja, mau malu ya dipeluk? Tetapi mama butuh energi, gimana caranya ya? Pegang saja atau usap-usap kepala boleh nggak? Proses dialog memang harus dilakukan," terang Melly. Belum lama ini, Melly menangani sebuah kasus yang baik ibu maupun anak tidak terbiasa dipeluk. Mereka, istilahnya bisa sampai keluar keringat dingin saat akan berpelukan. "Perlu effort besar untuk memeluk. Yang kemudian, saat memeluk, tahan dulu, jangan dilepas hingga napas lebih normal," saran Melly.